Program Bali Mandara: Jawaban Realistis Wacana “Ajeg Bali”
![]() |
Ilustrasi Gambar JKBM sebagai Bagian dari Program Bali Mandara (Sumber Gambar: http://programjkbmbali.blogspot.com/) |
Bali Mandara, demikianlah tagline
yang diusung oleh pemerintah provinsi Bali di bawah kepemimpinan sosok Gubernur
karismatik bernama I Made Mangku Pastika empat tahun belakangan ini dalam
menjalankan roda pemerintahan. Suku kata ‘mandara’ merupakan akronim dari kata maju,
aman, damai, dan sejahtera yang selanjutnya menjadi misi bersama seluruh elemen
masyarakat Bali. Selain merupakan sebuah akronim, Bali Mandara juga memiliki
korelasi yang demikian erat dengan Hindu, bukan semata-mata karena kata mandara
berasal dari bahasa Sansekerta, tetapi lebih karena filosofi dari keseluruhan
program Bali Mandara yang merupakan hasil adopsi dari nilai-nilai luhur agama Hindu
seperti misalnya konsep Yadnya, Tri Hita Karana, Tat Twam Asi, dan lain
sebagainya.
Menilisik lebih jauh, Program Bali Mandara sesungguhnya merupakan
sebuah program yang lahir dari hasil analisis kritis dan mendalam atas segala
problematika yang dialami oleh masyarakat Bali terkait dengan (1) kemiskinan
dan pengangguran; (2) mutu layanan pendidikan dan kesehatan; (3) daya saing; (4)
industri kecil, pariwisata, dan UMKM; (5) pengelolaan lingkungan hidup dan
pelestarian budaya; (5) ketentraman, ketertiban, penanggulangan bencana dan
pengamanan; (7) infrastruktur; dan (8) reformasi birokrasi dan tata kelola.
Garis-garis besar permasalahan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal
terlahirnya program-program unggulan Bali Mandara seperti Jaminan Kesehatan Bali
Mandara (JKBM), Bedah Rumah, Sistem Pertanian Terintegrasi (Simantri), Jaminan
Kredit Daerah (Jamkrida), beasiswa prestasi untuk siswa dari keluarga miskin,
Gerakan Pembangunan Desa Terpadu Bali Mandara (Gerbangsadu Mandara), Bali Green
Province, dan bursa kerja online.
Bak gayung bersambut, program-program Bali Mandara yang digulirkan
pemprov Bali disambut antusias oleh masyarakat Bali dari berbagai kalangan
sejak pertama kali diluncurkan. Selain karena dianggap pro rakyat, program Bali
Mandara juga dinilai relevan dan sejalan dengan kultur sosial masyarakat Bali
yang sangat lekat dengan agama, adat istiadat, seni, dan budaya. Inilah yang
kemudian menjadi modal berharga dan pelecut semangat bagi pemprov Bali dalam
menjalankan program-program Bali Mandara sehingga program-program ini bisa
berjalan secara optimal. Dan benar saja, program-program Bali Mandara yang
dijalankan atas dasar sinergi positif antara pemprov dan masyarakat Bali ini secara
komulatif telah mampu membawa Bali ke arah kemajuan. Pernyataan ini bukanlah
isapan jempol semata, akan tetapi kemajuan yang dimaksud didasarkan pada data
yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Prosentase tingkat kemiskinan saja sebenarnya sudah cukup dijadikan
sebagai indikator untuk mengatahui berhasil atau tidaknya program Bali Mandara,
sebab secara garis besarnya program-program Bali Mandara bermuara pada upaya
pengentasan kemiskinan. Data menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan masyarakat
Bali dari tahun ke tahun semenjak program Bali Mandara ini bergulir terus
mengalami penurunan yang cukup signifikan. Berdasarkan data resmi yang dirilis
BPS Provinsi Bali, pada tahun 2008 yang merupakan tahun awal bergulirnya
berbagai program Bali Mandara, jumlah penduduk miskin di Bali tercatat sebanyak
6,17% dari keseluruhan jumlah penduduk Bali. Namun setahun berikutnya yakni
pada tahun 2009, prosentase tingkat kemiskinan penduduk Bali perlahan mulai mengalami
penurunan hingga menjadi 5,13%. Kemudian pada tahun 2010 prosentase tingkat
kemiskinan di Bali kembali turun menjadi 4,88%. Tren positif ini terus
berlanjut dimana pada tahun 2011 penduduk miskin di Bali hanya tercatat
sebanyak 4,20%. Puncaknya yaitu pada tahun 2012 kemarin, per bulan maret
penduduk Bali yang berada di bawah garis kemiskinan hanya tersisa sebanyak
4,18%. Bahkan jumlah itu kembali mengalami penurunan hanya dalam kurun waktu
beberapa bulan, data menunjukkan pada bulan september tahun 2012 prosentase
jumlah penduduk miskin di Bali tinggal 3,95%. Angka ini kemudian mengantarkan
Provinsi Bali untuk menduduki peringkat dua nasional setelah provinsi DKI
Jakarta untuk urusan prosentase jumlah penduduk miskin.
Namun sebagai langkah antisipatif terhadap munculnya anggapan
penyajian data secara parsial yang semata-mata hanya untuk kepentingan
pencitraan yang sarat akan muatan politis, maka perlu adanya pemaparan data-data
statistikal penunjang lain yang dapat dijadikan sebagai indikator bahwa program
Bali Mandara memang telah berhasil membawa Bali ke arah kemajuan. Adapun data-data
yang dimaksud antara lain terkait dengan semakin berkembangnya ekonomi
kerakyatan yang berpotensi besar dapat mengangkat perekonomian dan
kesejahteraan masyarakat pedesaan. Hal ini terlihat dari data BPS yang
menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Bali didominasi oleh penduduk yang
bermukim di daerah perkotaan. Data kesehatan masyarakat Bali juga menunjukkan
tren positif, yang tercermin dari semakin meningkatnya umur harapan hidup, menurunnya
angka kematian ibu melahirkan, dan menurunnya angka kematian bayi dari tahun ke
tahun sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2011. Sementara itu Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) Bali yang merupakan indikator hasil pembangunan yang
diukur dari pertumbuhan ekonomi, faktor kesehatan dan pendidikan juga tercatat
mengalami peningkatan yakni pada tahun 2010 berhasil mencapai angka 72,28
setingkat di atas rata-rata IPM nasional yang hanya mampu mencapai angka 72,27.
Prestasi ini juga sekaligus memutus daftar panjang catatan buruk IPM Bali yang
sebelumnya selalu berada di bawah rata-rata IPM nasional.
Selain dalam bentuk data statistik, keberhasilan program Bali
Mandara juga ditunjukkan dengan munculnya testimoni-testimoni positif dari
berbagai kalangan masyarakat Bali terutama masyarakat dari kalangan ekonomi
menengah kebawah yang merasa sangat terbantu dengan program-program Bali Mandara
seperti JKBM dan Bedah Rumah. Ketut Jaya adalah salah seorang yang memberikan
testimoni positif terkait pelaksanaan program Bali Mandara khususnya JKBM. Ia
yang hanya seorang buruh ukir tidak tega melihat istrinya Nyoman Ratni yang terus
meringis kesakitan karena didiagnosa mengalami hamil di luar kandungan yang
mengakibatkan istrinya terus menerus mengalami pendarahan. Namun apa daya,
maksud hati ingin melihat sang istri sembuh setelah dibawanya sang istri ke
RSUD Sanjiwani Gianyar, ia malah dihadapkan pada besarnya biaya operasi yang
harus ia lunasi, yaitu sebesar 31 juta rupiah, jumlah yang sangat fantastis
untuk ukuran seorang buruh ukir seperti dirinya. Namun bak ketiban durian runtuh tepat pada
saat yang bersamaan ia bertemu dengan ketua GASOS (Gerakan Solidaritas Sosial)
Bali, I Wayan Lanang Sudira yang kebetulan pada saat itu sedang memantau
pelaksanaan program JKBM, dan pada saat itupula ia diperkenalkan pada program
JKBM dan alhasil istrinya bisa dioperasi hingga sembuh sampai sekarang tanpa
mengeluarkan biaya sepeserpun.
Testimoni serupa juga disampaikan oleh dua orang kepala desa yakni
I Gde Partadana kepala Desa Bebandem, Karangasem dan I Made Sumita kepala Desa
Pejarakan, Buleleng. Namun kali ini testimoni yang disampaikan berkaitan dengan
program Gerbangsadu Mandara yang mulai digulirkan sejak bulan april 2012 lalu, dimana
pada awal pelaksanaannya pemprov telah menentukan lima desa sebagai pilot project. Intinya mereka sangat
mengapresiasi bergulirnya program Gerbangsadu Mandara ini karena dengan program
ini masyarakat di desa yang masing-masing mereka pimpin menjadi terberdayakan
sehingga dengan demikian diharapkan nantinya akan berimbas pada peningkatan
pendapatan perkapita mereka yang selanjutnya akan mengurangi angaka kemiskinan
di Bali khususnya di daerah pedesaan.
Salah seorang politisi militan asal Denpasar yang kini juga duduk
sebagai Ketua Komisi I DPRD Bali bernama Made Arjaya juga dikabarkan turut mengapresiasi
pelaksanaan program Bali Mandara yang dijalankan oleh Pemprov Bali. Selama ini
beliau dikenal pro dengan program Bali Mandara bahkan karna tindakannya ini
konon katanya ia harus rela ‘diberangus’ dari DCS (Daftar Calon Sementara)
untuk maju dalam pemilihan legislatif (Pileg) tahun 2014 mendatang. Hal ini
menunjukkan bahwa program Bali Mandara yang selama ini telah bergulir tidak
hanya diapresiasi oleh masyarakat yang berasal dari kalangan ekonomi menengah
kebawah tapi juga oleh kalangan politisi.
Program Bali Mandara khususnya JKBM belakangan ini juga menjadi
semakain ramai diperbincangkan publik bahkan sempat menghiasi headline dari berbagai media cetak
selama sekian hari. Bukan lagi karna manfaatnya yang sudah dirasakan
masyarakat, tapi kali ini program JKBM menjadi ‘buah bibir’ karena mencuatnya
kasus klaim terhadap program JKBM itu sendiri oleh pihak-pihak yang tidak
bertanggungjawab. Kasus ini disinyalir berhubungan erat dengan hajatan pesta
demokrasi yang akan di gelar oleh Provinsi Bali tahun ini, yaitu pemilihan
Gubernur (Pilgub) untuk periode pemerintahan tahun 2013 hingga tahun 2018.
Klaim terhadap program Bali Mandara ini diduga karena JKBM merupakan program
yang bisa dijadikan sebagai ‘komoditi politik’ yang bernilaijual tinggi untuk
menarik simpati masyarakat Bali menjelang Pilgub bulan mei mendatang yang
muaranya sudah bisa ditebak yaitu untuk mendulang suara sebanyak-banyaknya bagi
pasangan calon tertentu. Fenomena ini tentu telah menggambarkan secara gamblang
betapa program JKBM ini dicintai masyarakat, sudah barang tentu ini juga
merupakan indikasi bahwa program JKBM telah berhasil dalam membantu
meningkatkan taraf kesehatan masyarakat Bali.
Secara pribadi penulis juga sangat mengapresiasi pelaksanaan program-program
Bali Mandara tentunya dengan tetap mengedepankan prinsip objektivitas. Betapa
tidak, program-program ini telah berhasil menghasilkan data statistik yang
menunjukkan penurunan angka kemiskinan, peningkatan derajat kesehatan
masyarakat, dan peningkatan IPM Bali bahkan bisa melampaui rata-rata IPM
nasional. Selain itu penulis juga menilai bahwa program-program Bali Mandara
memang sangat bagus ditinjau dari segi konsep program karena sama sekali tidak
meninggalkan local genius Bali dalam pelaksanaannya. Salah satu yang
dapat penulis contohkan yakni dalam hal pengelolaan Simantri, disini sangat
kental unsur menyama braya nya karena
semua petani yang tergabung dalam suatu kelompok tani harus bahu membahu
membangun kelompok taninya karena jika tidak, hampir bisa dipastikan bahwa
kelompok taninya akan mandeg. Sehingga dengan konsep yang seperti ini selain
dapat membantu mengentaskan kemiskinan, diharapkan juga akan mampu untuk semakin
merekatkan masyarakat Bali khususnya yang tergabung dalam satu kelompok tani.
Terlepas dari upaya pengentasan kemiskinan yang memang menjadi
misi utama, pemprov Bali juga tidak lantas mengesampingkan bahkan melupakan
pelestarian budaya Bali yang selama ini menjadi komoditi utama pariwisata Bali.
Perhatian pemerintah perhadap budaya Bali juga tertuang dalam program Bali Mandara
seperti misalnya pemberian intensif untuk seluruh desa pakraman dan subak di
Bali yang mana nominalnya diupayakn untuk terus meningkat dari tahun-tahun
sebelumnya. Menurut analisis penulis, dua program ini cukup untuk menggambarkan
betapa jeli-nya pemprov Bali dalam ‘menelurkan’ program kerja, karena menurut
penulis kedua sendi itulah yang memang harus diperkokoh guna mendukung usaha
pelsetarian budaya Bali. Desa pakaraman yang notabene merupakan ‘benteng’
terakhir pelestarian adat istiadat dan budaya Bali memang sudah selayaknya
mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Ibarat sebuah kerajaan, jika
bentengnya sudah rapuh maka kerajaan lain akan dengan leluasa menyerang dan
menguasai kerajaan tersebut. Demikian halnya dengan subak, karena sebenarnya
budaya Bali memiliki korelasi dengan dunia pertanian, bahkan bisa dikatakan
bahwa hampir semua budaya Bali berakar pada sektor pertanian. Maka dari itu
sangat tepat jika desa pakraman dan subak diprioritaskan sebagai sendi yang
harus diperkokoh dan dilestarikan keberadaanya.
Singkat kata, program Bali Mandara yang dilaksanakan oleh pemprov
Bali di bawah komando Mangku Pastika saat ini merupakan jawaban yang paling
realistis dari wacana ‘ajeg Bali’ yang selama ini didengung-dengungkan oleh
berbagai pihak. Tidak saja karena dinilai mampu mengangkat masyarakat Bali dari
bawah garis kemiskinan tapi juga karena tetap berpegang pada adat istidat dan
budaya Bali yang adiluhung serta senantiasa mengedepankan prinsip relevansi
yang logis dan dinamis. Meski demikian program Bali mandara bukan berarti tanpa
cacad, ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki seperti misalnya masalah
pengawasan, teknis pelaksanaan, dan kesinambungan program, serta koordinasi. Lini
inilah yang harus lebih digenjot guna memantapkan program Bali Mandara sebagai
program terbaik menuju ajegnya Bali yang agung dan ‘shanti’.
Daftar Pustaka
Anonim. 2012. Bali Mnadara Tekan Angka Kemiskinan. Diakses dari situs http://bali.antaranews.com/berita/25121/bali-mandara-tekan-angka-kemiskinan
pada tanggal 20 Maret 2013.
Anonim. 2013. Arjaya Diberangus dari Pencalegan. Diakses dari situs http://www.nusabali.com/opendoc.php?page=0&id=28860&date=2013-03-14%2002:13:40
pada tanggal 20 Maret 2013.
Anonim. 2013. Hasil Komulatif Implementasi Bali Mandara. Diakses dari situs http://www.mademangkupastika.com/hasil-komulatif-implementasi-bali-mandara.php
pada tanggal 20 Maret 2013.
Anonim. 2013. Menderita Hamil di Luar Kandungan, Biaya Operasi 31 Juta Terbayar
Berkat JKBM. Diakses dari situs http://mademangkupastika.com/read-news.php?read=5689945
pada tanggal 20 Maret 2013.
Anonim. 2013. Bali Mandara Berdasarkan Filosofi Hindu. Diakses dari situs http://www.mademangkupastika.com/read-news.php?read=5689947
pada tanggal 20 Maret 2013.
Bapeda Bali. 2012. Data BPS, Angka Kemiskinan Menurun Program Bali Mandara Tekan Angka
Kemiskinan. Diakses dari situs http://www.bappeda.baliprov.go.id/berita/2012/7/%E2%80%BA-data-bps-2012-angka-kemiskinan-menurun-program-bali-mandara-tekan-angka-kemiskin
pada tanggal 20 Maret 2013.
Bapeda Bali. 2012. Data BPS, Testimoni Kepala Desa Penerima Gerbangsadu. Diakses dari
situs http://www.bappeda.baliprov.go.id/berita/2012/10/testimoni-kepala-desa-penerima-program-gerbangsadu
pada tanggal 20 Maret 2013.
Biro Humas Setda Bali. 2012. Empat Tahun Program Bali Mandara, Mantapkan
Sinergi Positif untuk Kesejahteraan Masyarakat Bali. Diakses dari situs http://www.baliprov.go.id/-small--b-Empat-Tahun-Program-Bali-Mandara--b---small--br--Mantapkan-Sinergi-Positif-untuk-Kesejahteraan-Masyarakat-Bali
pada tanggal 20 Maret 2013.
Biro Humas Setda Bali. 2013. Bali Mandara, Program Pro Rakyat Tekan
Kemiskinan. Diakses dari situs http://www.baliprov.go.id/Bali-Mandara--Program-Pro-Rakyat-Tekan-Angka-Kemiskinan
pada tanggal 20 Maret 2013.Diikutsertakan dalam Lomba Menulis Bali Mandara Tahun 2013 yang Diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Bali
0 comments :
Post a Comment